BI Rate Diperkirakan Tetap di 6,5 Persen

Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa memeprediksikan, Bank Sentral masih akan mempertahankan BI rate di posisi 6,5 persen. Lebih jauh, ia memperkirakan BI rate akan tetap dipertahankan di 6,5 persen hingga akhir tahun nanti. "Kalau melihat laju inflasi Agustus yang turun karena tekanan pangan yang mulai berkurang, maka ada indikasi BI rate tidak akan berubah," katanya.

Terlebih, saat ini pemerintah melakukan intervensi, sehingga penurunan pangan akan berlanjut. "Peak-nya kan sudah tercapai di bulan Juli, kalau Lebaran selesai itu sudah mulai ada penurunan kembali," terangnya.

Dikatakannya, kenaikan inflasi di akhir tahun bukan lah suatu tren. Pasalnya, "Adanya kenaikan pangan di akhir tahun diakibatkan tidak adanya intervensi Pemerintah, sehingga pedagang berpekulasi dan menaikan harga. Karena harga naik ya mendorong inflasi, akhirnya BI rate kan akan dipertimbangkan," jelas Purbaya.

Jika Pemerintah berhasil, ucapnya, maka inflasi hingga akhir tahun akan ada di sekitar 6 persen. "Untuk bulan September saya prediksi inflasi tidak akan jauh dari kisaran Agustus, malah akan turun sedikit di bawah itu," jelasnya. Sayang, ia tak memaparkan berapa nilainya.

Menurutnya, dengan faktor tersebut, tentu BI akan berhitung untuk tidak menaikan BI rate. Terlebih, "Untuk ekonomi nggak baik kan naikin bunga, karena harga-harga akan melambung dan daya beli masyarakat akan tergerus, ini jadi pertimbangan juga," ucapnya. (kompas/Kontan)
Written by: Paling Seru
Paling Seru, Updated at: 17.41

Inflasi Melonjak, BI Rate Diprediksi Naik

The Indonesia Economic Intelligence (IEI) memperkirakan inflasi domestik meningkat signifikan pada 2010. Kebijakan menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL) menjadi salah satu faktor yang berkontribusi besar bagi laju inflasi tersebut.

"Dampak El Nino di mana musim hujan datang lebih awal pada September-Okober yang menyebabkan gagal panen, dan faktor musiman seperti Puasa, Lebaran, Natal, dan tahun baru, juga menyebabkan laju peningkatan inflasi," ujar pengamat ekonomi IEI, Sunarsip, di Jakarta, Minggu 8 Agustus 2010.

Jadi, Sunarsip menegaskan, tekanan inflasi masih akan terjadi pada Agustus ini, terkait datangnya Puasa dan Lebaran. "Inflasi 2010 diperkirakan akan jauh di atas target," katanya. Terkait potensi terjadinya lonjakan inflasi itu, IEI mengimbau pemerintah untuk mengantisipasinya melalui serangkaian kebijakan di sektor rill maupun fiskal.

Kebijakan sektor riil, kata Sunarsip, dapat ditempuh dengan menjaga kelancaran distribusi barang melalui penyediaan infrastruktur yang memadai, dan meminimalkan pengaruh faktor musiman dari pergerakan harga kebutuhan pokok, terutama beras, melalui optimalisasi peran Bulog sebagai stabilisator harga. Sementara kebijakan fiskal dapat ditempuh dengan optimalisasi dana cadangan untuk kegiatan stabilisasi harga kebutuhan pokok masyarakat.

Perlu diingat, Sunarsip mengatakan, BI saat ini mengadopsi kerangka kebijakan inflation targeting, di mana kalau inflasi tinggi, maka BI akan menaikkan suku bunganya, demikian pula sebaliknya.

"Jadi, mengingat prospek inflasi 2010 ini tinggi, BI diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya paling cepat pada Oktober sebesar 25 basis poin menjadi 6,75 persen, dan diperkirakan akhir 2010 menjadi 7 persen," tutur Sunarsip.
• VIVAnews
Written by: Paling Seru
Paling Seru, Updated at: 06.47
Diberdayakan oleh Blogger.